Jadi Barang Langka, Hand Sanitizer Siswa SMK PIM Jadi Pilihan (1)

Merebaknya virus corona di Indonesia, membuat produk hand sanitizer atau pembersih tangan di toko modern dan apotek susah dijumpai. Jadi barang langka. Imbas dari kekosongan salah satu ‘pengaman’ agar terhindar dari virus itu, sekolah-sekolah farmasi pun mendapatkan berkah untuk membuat hand sanitizer dalam jumlah banyak. Pesanan hand sanitizer ini pun ikut berdatangan dari luar negeri. Rata-rata pesanan masuk melalui layanan WhatsApp ataupun Instagram dan Facebook.

Seperti yang dialami Layli Joyfita, siswi kelas 11 jurusan Farmasi Industri SMK Putra Indonesia Malang (PIM). Ia mengaku sebenarnya banyak pesanan hand sanitizer secara massal dari luar negeri. “Macam-macam jumlah pesanannya. Ada yang 50 botol sampai lebih dari 100 botol. Rata-rata ukuran 60 ml,” katanya di laboratorium sekolah di Jalan Barito 5 Kota Malang, kemarin. “Itu belum pesanan dari saudara atau tetangga,” tambahnya. Hal ini juga dibenarkan Kepala SMK PIM, Siti Zubaidah, S.Pd.

“Setelah banyak beredar informasi virus corona masuk ke Indonesia, sekolah juga mendadak mendapat pesanan hand sanitizer. Sebenarnya, pembuatan produk sabun, salah satunya hand sanitizer, sudah masuk pembelajaran produk kreatif dan kewirausahaan,” terang dia. Banyaknya pesanan hand sanitizer baik yang berlabel atau kosongan kepada siswa didiknya itu melalui media sosial, lanjutnya, juga menjadi nilai tambah siswa mata pelajaran produk kreatif dan kewirausahaan.

A. Mughis Fathoni, guru produktif dan farmasi SMK PIM juga menambahkan, ide membuat produk hand sanitizer timbul bulan April 2019 lalu. Ketika siswa-siswa SMK PIM sering mengikuti kegiatan ekspedisi memperingati hari bumi, pramuka atau outdoor lainnya. “Mereka sering lupa cuci tangan. Tapi hand sanitizer yang dibuat menggunakan bahan baku ramah lingkungan dan tingkat keamanannya juga diuji. Tidak asal campur formula. Menggunakan parameter power of hydrogen (pH) agar aman dan terjangkau masyarakat,” paparnya.

Dia menjelaskan, bahan-bahan yang digunakan mulai alkohol 70 persen yang berguna untuk membunuh kuman atau bakteri dan cocok untuk tangan. Lalu gliserin untuk pelembab dan essential oil sebagai pewangi serta Aquades. Formula pembuatan satu botol hand sanitizer ukuran 60 ml yakni 40 ml alkohol, 2 ml gliserin, 18 ml Aquades dan 1 tetes essential. “Semua dicampur dan dimasukkan botol lalu dilakukan tes Ph agar aman untuk kulit,” urai dia.

Diakuinya, pesanan untuk pembuatan cairan antiseptik produksi siswa SMK PIM sangat melimpah. “Lebih banyak beraktifitas di luar, lebih baik gunakan hand sanitizer. Tangan steril dan cepat kering,” tutupnya. Satu botol ukuran 60 ml itu, dijual hingga Rp 10.000. Ditambahkan Erni Rachmawati, S.Pd, guru produktif dan kewirausahaan SMK PIM. “Di mata pelajaran produk kreatif dan kewirausahaan, diajarkan pula untuk mengetahui jangka lama penggunaan produk dan target penjualan setiap siswa,” ujarnya.

Selain itu pula, diajarkan mengenai pembuatan kemasan yang higienis hingga packaging tertutup yang tahan lama sesuai dengan tanggal kadaluwarsa serta sasaran konsumen termasuk business plan. “Memang khusus hand sanitizer ini banyak order yang masuk. Kita memang ajarkan siswa mandiri, berjualan lewat online karena menjadi nilai tambah sesuai dengan segmentasi pasar dan strategi marketing yang lengkap,” urai guru tersebut. (mar).

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *