Siswa SMK PIM Malang Asah Kreativitas Sastra, Puisi hingga Cerpen Siap Dibukukan
Siswa SMK PIM Malang Asah Kreativitas Sastra, Puisi hingga Cerpen Siap Dibukukan
Tim SSC memberikan materi ke murid SMK PIM

MALANG – Siapa sangka, siswa yang sehari-hari mendalami ilmu kimia dan farmasi industri juga mampu merangkai kata menjadi karya sastra yang menyentuh. Hal itu ditunjukkan siswa SMK Putra Indonesia Malang (SMK PIM) melalui pelatihan menulis kreatif yang menghasilkan puisi, cerita pendek (cerpen), hingga karangan khas (karkhas).

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (20/10) hingga Rabu (21/10) ini bekerja sama dengan Komunitas Sutejo Spektrum Center (SSC) Ponorogo. Para siswa mendapatkan pendampingan langsung dari praktisi sastra dan jurnalistik untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus menggali potensi kreatif di luar bidang keilmuan yang selama ini mereka pelajari.

Salah satu karya yang lahir dari pelatihan tersebut adalah puisi berjudul Lautan Kehidupan karya Lindyava NKI, siswi jurusan Farmasi Industri. Melalui metafora laut dan pelabuhan, puisi itu menggambarkan keinginan menjadi tempat berlabuh bagi seseorang di tengah perjalanan kehidupan.

“Aku ingin menjadi pelabuhan tempatmu berhenti. Melepas lelah sebelum kembali. Mengarungi lautan kehidupan,” demikian penggalan puisi tersebut.

Puisi lainnya berjudul Jika Cinta adalah Pohon karya Saniya Azka, siswi Farmasi Industri. Karya ini menggunakan metafora pohon untuk menggambarkan kasih sayang, ketulusan, dan kesetiaan yang tidak selalu terlihat.

Kedua karya tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis sains tidak menghalangi siswa untuk mengembangkan kepekaan rasa dan kemampuan berekspresi melalui bahasa.

Kenalkan Teknik Kreatif Menulis Puisi

Penulis puisi dan cerpen sekaligus penggerak literasi dari Ponorogo, Dr Sutejo, MHum, mengenalkan teknik pasang kata kepada para siswa. Teknik ini mengajak peserta memasangkan kata-kata, kemudian merangkainya menjadi larik, bait, hingga sebuah puisi utuh.

Sutejo memberikan sejumlah contoh pasangan kata, seperti “aroma cinta”, “kaki cinta”, dan “pisau cinta”. Melalui kombinasi kata yang tidak biasa, siswa didorong untuk berani mengeksplorasi imajinasi dan menemukan makna baru.

Namun, proses tersebut tidak sepenuhnya mudah. Sutejo menyadari bahwa siswa dengan latar belakang pendidikan eksakta cenderung terbiasa berpikir logis. Karena itu, memasangkan dua kata yang tidak lazim secara logika menjadi tantangan tersendiri.

Ia kemudian memperkenalkan teknik alternatif, yakni sugesti ruang dan asosiasi pohon.

Melalui sugesti ruang, siswa diajak mengembangkan sebuah kata, misalnya laut, menjadi berbagai gambaran yang berkaitan, seperti gelombang dan dermaga. Sementara itu, teknik asosiasi pohon mengajak peserta memaknai akar, batang, dahan, ranting, dan daun sebagai bagian yang memiliki fungsi berbeda.

“Pohon itu kan bertumbuh, meninggi, dan membesar. Saya ajak siswa untuk menganalogikan semua hal seperti pohon. Ada akar, batang, dahan, ranting, daun. Masing-masing dari bagian pohon itu memiliki substansi dan kontribusi berbeda,” jelasnya.

Menurut Sutejo, akar dapat menjadi simbol pengabdian yang berlangsung dalam kesunyian. Meski tidak terlihat, akar tetap memiliki peran penting dalam menopang kehidupan pohon. Analogi tersebut mengajak siswa memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi dan setiap peran mempunyai arti.

Menulis Cerpen Lebih Mudah dengan Fragmen Peristiwa

Tidak hanya puisi, siswa juga mendapat pendampingan menulis cerpen dari Sapta Arif Nur Wahyudin, dosen muda yang produktif menulis cerita pendek.

Sapta memperkenalkan teknik fragmen peristiwa, yakni memetakan cerita ke dalam beberapa bagian kejadian sebelum merangkainya menjadi sebuah cerita utuh.

Pendekatan tersebut membantu siswa memahami alur cerita secara lebih terstruktur. Mereka dapat mengembangkan gagasan melalui rangkaian peristiwa tanpa harus menyusun keseluruhan cerita sekaligus.

Metode ini mendapat respons positif dari peserta karena dinilai memudahkan proses menulis dan mendorong mereka lebih percaya diri dalam mengolah kata.

Salah seorang peserta, Almira, mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Ia menyadari bahwa kegiatan menulis sastra dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan, terlebih ketika mendapat bimbingan langsung dari praktisi yang berpengalaman.

“Dengan belajar menulis, khususnya puisi dari ahlinya, saya menjadi sangat tertarik pada kegiatan menulis sastra ini,” ungkapnya.

Siswa Didorong Berani Menuangkan Gagasan

Pada sesi penulisan karangan khas, Redaktur Karkhas Perum LKBN ANTARA, Masuki M Astro, mendorong siswa untuk berani menuangkan gagasan tanpa dibayangi ketakutan terhadap kualitas tulisan.

Menurutnya, keberanian memulai menjadi bagian penting dalam proses belajar menulis. Kemampuan tersebut tidak terbentuk hanya melalui pemahaman teori, tetapi juga melalui praktik dan latihan secara berkelanjutan.

“Untuk belajar, diperlukan keberanian saja dalam menuangkan ide. Belajar menulis itu hakikatnya sama dengan anak kecil belajar naik sepeda. Belajar naik sepeda itu tidak bisa jika hanya dipelajari secara pengetahuan, bahkan tidak ada teorinya, tapi langsung saja praktik,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keterampilan menulis tidak dapat dikuasai dalam sekali latihan. Konsistensi dan kemauan untuk terus mencoba menjadi kunci dalam mengembangkan kemampuan tersebut.

Guru Bahasa Indonesia SMK PIM, Diana Muhayati, menjelaskan bahwa peserta pelatihan dipilih berdasarkan minat masing-masing. Mereka mendapatkan kesempatan untuk berkonsentrasi pada kegiatan menulis dengan tidak mengikuti pembelajaran reguler selama pelatihan berlangsung.

Langkah tersebut diharapkan membuat siswa lebih fokus menyerap materi sekaligus menyelesaikan tugas praktik yang diberikan para mentor.

Literasi Disiapkan Menjadi Program Unggulan

Kepala SMK PIM, Eka Tries Yuliani, menegaskan bahwa kompetensi sains yang dipelajari siswa perlu dilengkapi keterampilan lain untuk menghadapi kompleksitas kehidupan. Kemampuan menulis, menurutnya, menjadi salah satu bekal penting untuk mengembangkan kreativitas sekaligus mengelola emosi.

“Bahkan, kalau Pak Tejo mengemukakan bahwa menulis itu merupakan terapi, saya sangat cocok. Menulis itu menjadi sarana untuk melepaskan beban emosi. Demikian juga dengan ranah seni yang lain, seperti menggambar,” ujarnya.

Eka yang berlatar belakang pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang (UM) itu menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Bahkan, literasi diproyeksikan menjadi salah satu program unggulan SMK PIM.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap proses dan karya siswa, seluruh tulisan yang dihasilkan dalam pelatihan tersebut direncanakan diterbitkan menjadi sebuah buku.

Melalui penerbitan itu, sekolah berharap siswa memiliki kebanggaan atas karya mereka sekaligus terdorong untuk terus berkarya.

Program ini menjadi upaya SMK PIM untuk membangun keseimbangan antara kompetensi kejuruan dan keterampilan literasi. Dengan demikian, siswa tidak hanya siap menghadapi tantangan dunia industri, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan, mengolah pengalaman, dan memahami kehidupan melalui tulisan.

BACA JUGA : PMR SMK PIM RAIH JUARA MADYA, ANTIKA PUTRI PERMATA SARI DAN TIM  BANGGA KENALKAN SEKOLAH DI TINGKAT KOTA MALANG

Sumber Berita : https://jatim.antaranews.com/berita/1110191/ketika-siswa-farmasi-dan-kimia-belajar-menulis-puisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *