Meet Expert PT Kosmetika Global Indonesia Bekali Murid dengan Gambaran Riil Profesi dan Pengadaan Bahan Baku
MALANG – Dunia industri kosmetik tidak hanya membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi teknis. Ketelitian, kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis hingga keberanian mengambil keputusan menjadi bagian penting yang harus disiapkan sejak bangku sekolah. Hal inilah yang coba didekatkan SMK Putra Indonesia Malang (SMK PIM) melalui program Meet Expert bersama praktisi industri.
Murid kelas X Farmasi Industri SMK PIM mendapat kesempatan menggali langsung pengalaman dunia kerja dari Putri Ayu, Procurement Supervisor PT Kosmetika Global Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, murid diajak mengenal lebih dekat profesi di industri kosmetik sekaligus alur pengadaan bahan baku.
Materi yang disampaikan tidak berhenti pada teori. Putri Ayu membawa murid melihat bagaimana kompetensi yang dipelajari di sekolah memiliki keterkaitan dengan proses kerja nyata di industri. Mulai dari mengenal profesi, memahami kebutuhan bahan baku hingga pentingnya ketelitian dan komunikasi dalam menjalankan pekerjaan.
Bagi murid kelas X, pengalaman tersebut menjadi pintu awal untuk mengenali luasnya pilihan karier di sektor industri kosmetik. Interaksi langsung dengan praktisi juga membuka ruang bagi murid untuk bertanya mengenai kondisi riil yang dihadapi pekerja di dunia industri.
Pesan motivasi turut disampaikan Putri Ayu kepada murid. Ia mendorong generasi muda agar tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti mencoba.
“Habiskan kegagalan di masa sekarang dengan berani mencoba hingga akhirnya engkau tiba di titik keberhasilanmu.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju dunia kerja tidak selalu berlangsung mulus. Keberanian mencoba dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal penting bagi murid dalam mempersiapkan masa depannya.
Tak Sekadar Teori, Hadirkan Pengalaman Industri
Kepala Konsentrasi Keahlian Farmasi Industri SMK PIM, Dewi Kurniawati, S.Pd. Gr., menegaskan bahwa kehadiran praktisi industri memberikan warna berbeda dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, murid tidak hanya mendapatkan penguatan materi kefarmasian industri, tetapi juga memperoleh pengalaman dan nilai kehidupan dari perjalanan karier seorang praktisi.
“Kehadiran praktisi membawa nuansa belajar yang lebih kontekstual. Selain konten materi kefarmasian industri, praktisi dapat menyampaikan pengalaman bekerja dan nilai kehidupan yang didapatkan hingga mencapai titik karier pekerjaannya,” ujar Dewi.
Kondisi tersebut, lanjutnya, memberikan kesempatan kepada murid untuk lebih leluasa menggali informasi mengenai dunia industri.
“Murid dapat lebih leluasa bertanya atas kondisi riil yang ada di industri farmasi. Ini menjadi pengalaman yang tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membantu mereka memahami bagaimana kompetensi di sekolah diterapkan dalam dunia kerja,” jelasnya.
Dewi menambahkan, kesiapan murid memasuki dunia industri tidak cukup hanya dibangun melalui kompetensi teknis. Sekolah juga terus menumbuhkan sejumlah soft skill yang menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang siap menghadapi dinamika pekerjaan.
Di antaranya penalaran kritis, ketelitian, kolaborasi, dan komunikasi.
“Kompetensi yang terus ditumbuhkan dengan kesadaran adalah soft skill, meliputi penalaran kritis, ketelitian, kolaborasi serta komunikasi. Hal ini penting dalam menyertai proses belajar agar membentuk profil murid Farmasi Industri yang holistik,” paparnya.
Kelas X Jadi Titik Awal Eksplorasi Karier
Dewi melihat kelas X sebagai fase penting dalam perjalanan murid Farmasi Industri. Pada tahap ini, murid mulai diperkenalkan secara lebih luas terhadap lingkungan profesi dan dunia industri.
Karena itu, interaksi dengan praktisi diharapkan mampu memantik rasa ingin tahu sekaligus passion murid terhadap bidang yang mereka pilih.
“Di kelas X adalah masa eksplorasi awal untuk memantik passion, sehingga murid lebih visioner terhadap karier yang ingin direncanakan di dunia kerja industri,” tegasnya.
Melalui Meet Expert, SMK PIM berupaya mempertemukan pembelajaran di ruang kelas dengan pengalaman nyata dari dunia industri. Harapannya, murid Farmasi Industri tidak hanya mengetahui apa yang dipelajari, tetapi juga memahami untuk apa kompetensi tersebut dibutuhkan dan ke mana kompetensi itu dapat membawa mereka di masa depan.
BACA JUGA : DARI TAK BISA BEDAKAN TANGAN KANAN-KIRI, SABRINA KINI JADI PASKIBRAKA KOTA MALANG TAHUN 2026
