PRAMUKA GARUDA DARI SMK PIM

DARI REVISI PORTOFOLIO HINGGA TIDUR DINI HARI, LENCANA GARUDA JADI SIMBOL PERJUANGAN

MALANG – Menjadi Pramuka Garuda bukan sekadar soal mengenakan lencana kebanggaan. Di balik pengukuhan tiga siswa SMK Putra Indonesia Malang (SMK PIM) sebagai Pramuka Garuda, tersimpan cerita tentang kerja keras, keterbatasan waktu, revisi portofolio, hingga dukungan orang tua dan pembina.

Tiga siswa kelas XII Teknik Kimia Industri (TKI) SMK PIM yang berhasil mencapai predikat tersebut adalah Salvia Zhema Hayuningtiyas, Alviero, dan Satria Rahmat Akbar Prastono. Ketiganya merupakan bagian dari Dewan Ambalan Prapima periode 2025/2026.

Bagi Zhema, Kerani Dewan Ambalan Prapima yang sebelumnya bersekolah di SMPN 2 Malang, momen paling emosional terjadi ketika tanda Pramuka Garuda dikalungkan kepadanya.

“Yang paling berkesan saat dikalungkan tanda Pramuka Garuda dan mendapat ucapan selamat dari banyak orang, terutama Bu Eka, Kak Mihwa, dan teman-teman. Saya sangat senang dan terharu karena semua proses dan perjuangan akhirnya terbayarkan,” ungkap Salvia.

Perjuangan menuju titik tersebut tidaklah mudah. Zhema mengaku harus berkali-kali melakukan revisi portofolio. Ia juga harus mengurus berbagai tanda tangan pembina. Ketika pembinanya berganti, perjalanan mengurus administrasi bahkan membuatnya beberapa kali pulang-pergi ke Jabung bersama Alviero dan Akbar.

Tidak berhenti di situ. Proses penyusunan portofolio tetap dikerjakan meski memasuki masa libur. Beberapa kali Zhema bahkan baru beristirahat sekitar pukul 03.00.

“Bagi saya, menjadi Pramuka Garuda bukan hanya penghargaan, tetapi bukti bahwa usaha dan perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil,” tegasnya.

Pengalaman tersebut justru menjadi energi baru bagi Zhema. Ia ingin tetap aktif dalam kegiatan Prapima dan SMK PIM, sekaligus membantu adik-adik kelas yang tengah menjalani proses serupa.

“Saya ingin berbagi pengalaman yang saya dapatkan selama menjadi Pramuka Garuda. Menjadi Pramuka Garuda berarti memiliki tanggung jawab untuk terus berkembang dan memberikan manfaat bagi orang lain,” katanya.

Sementara itu, Alviero, Pradana Dewan Ambalan Prapima periode 2025/2026 asal SMP Islam Batu, memiliki pengalaman berbeda. Baginya, momen paling berkesan justru ketika pengukuhan didampingi orang tua dan teman-teman yang selama ini memberikan dukungan.

Ia mengaku bangga sekaligus terharu karena seluruh proses panjang tersebut tidak dijalaninya seorang diri.

“Yang paling berkesan saat pengukuhan didampingi orang tua dan teman-teman yang selama ini selalu mendukung saya. Saya merasa bangga dan terharu karena melewati semua proses ini tidak sendirian,” ujarnya.

Tantangan terbesar Alviero adalah membagi waktu. Sebagai siswa kelas XII sekaligus pengurus Dewan Ambalan, ia harus menyeimbangkan kewajiban sekolah, aktivitas organisasi, dan proses penempuhan Pramuka Garuda.

Bagi Alviero, pencapaian tersebut sekaligus membawa tanggung jawab baru. Ia ingin pengalaman yang diperolehnya tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi diteruskan kepada anggota Prapima lainnya.

“Saya ingin berbagi pengalaman selama proses menuju Pramuka Garuda agar bisa menjadi motivasi bagi teman-teman lain untuk berani mencoba dan terus berkembang,” tuturnya.

Cerita perjuangan juga datang dari Satria Rahmat Akbar Prastono, siswa XII TKI asal SMPN 1 Bululawang yang bertugas di Sie Teknik Kepramukaan dan Evaluasi.

Satria menyebut pengalungan Lencana Pramuka Garuda oleh orang tua menjadi momen yang paling membekas. Perasaan sedih dan bahagia bercampur setelah melewati rangkaian proses, mulai dari tes hingga menyelesaikan portofolio.

“Perjalanan untuk mencapai Pramuka Garuda tidaklah mudah. Selain mengikuti tes dan menyelesaikan portofolio, saya juga mendapatkan pengalaman serta teman-teman baru dari sekolah lain,” jelasnya.

Satria mengungkapkan, salah satu kendala terbesar adalah keterbatasan waktu dalam penyelesaian portofolio. Informasi mengenai pendaftaran Pramuka Garuda yang diterima relatif terlambat membuat waktu pengerjaan semakin terbatas.

Kondisi semakin menantang karena belum ada kakak kelas sebelumnya yang mencapai Pramuka Garuda. Akibatnya, mereka harus belajar lebih mandiri tanpa banyak referensi dari pengalaman senior.

“Karena belum ada kakak kelas sebelumnya yang mencapai Pramuka Garuda, kami tidak memiliki banyak referensi maupun orang yang dapat membantu. Akibatnya, terdapat beberapa kesalahan dan revisi selama proses pengisian portofolio,” ungkapnya.

Namun, seluruh tantangan tersebut menjadi pengalaman berharga. Bagi Satria, sertifikat Pramuka Garuda bukan hanya pencapaian dalam bidang kepramukaan, tetapi juga dapat menjadi salah satu dokumen pendukung ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Ia pun memiliki tekad untuk meneruskan pengalaman tersebut kepada generasi berikutnya di Prapima.

“Saya ingin membantu dan membimbing adik-adik kelas yang ingin mengikuti proses menuju Pramuka Garuda, terutama dengan berbagi pengalaman agar mereka tidak mengalami kesulitan yang sama seperti yang saya alami,” katanya.

Ketiga siswa tersebut memiliki satu pandangan yang sama: lencana Pramuka Garuda bukanlah garis akhir.

Bagi mereka, predikat tersebut justru menjadi awal dari tanggung jawab untuk terus belajar, berkembang, berorganisasi, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Pramuka Garuda bukan hanya tentang mendapatkan lencana atau sertifikat, tetapi menjadi bukti dari proses, usaha, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengalaman yang telah saya jalani,” pungkas Satria.

Dari ruang kelas, kegiatan Dewan Ambalan hingga proses panjang penyusunan portofolio, perjalanan ketiganya menunjukkan bahwa sebuah lencana kecil dapat menyimpan cerita perjuangan yang besar. Kini, tugas mereka bukan sekadar mempertahankan predikat Pramuka Garuda, tetapi menjadi teladan dan membuka jalan bagi adik-adik Prapima untuk berani menempuh jejak yang sama.

BACA JUGA : SISWA SMK PIM UNJUK GIGI DI AJANG SAINS, AGATHAN BAWA PULANG MEDALI EMAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *